Home » » Sebagai prosesor terbaik, Snapdragon 801 kerap dijadikan target untuk dikalahkan kompetitornya. Tak terkecuali Intel yang mengklaim prosesor ponsel terbarunya lebih kencang dibanding prosesor besutan Qualcomm itu. Tak ingin dianggap sekadar bicara, raksasa chip ini pun membuktikannya dengan mengadu kedua prosesor menggunakan aplikasi benchmark 3DMark. Hasil pengujian mencatatkan Intel Moorefield dengan empat inti prosesor berkecepatan 2,3 GHz unggul, dengan poin sebesar 20.887. Lebih tinggi dari Snapdragon 801 yang 'hanya' mendapat skor 18.742. Menurut Matt Dunford, Manager WW Client Benchmarking Intel, tingginya skor Intel Moorefield juga tak lepas dari chip grafis yang digunakan yakni PowerVR G6430. Chip grafis yang sama dengan yang ada pada iPhone 5S. Unggul secara performa bukan berarti lebih baik, hal yang tak kalah penting yang harus diperhatikan Intel adalah soal user experience. Boleh dibilang seri Snapdragon sangat kompeten dalam hal ini. Kinerja cepat memang penting, tapi kenyamanan penggunaan juga tak kalah pentingnya. Inilah yang selama ini berhasil dipertahankan Qualcomm dengan Snapdragon, dan bukan perkara mudah mengalahkan hal tersebut.

Sebagai prosesor terbaik, Snapdragon 801 kerap dijadikan target untuk dikalahkan kompetitornya. Tak terkecuali Intel yang mengklaim prosesor ponsel terbarunya lebih kencang dibanding prosesor besutan Qualcomm itu. Tak ingin dianggap sekadar bicara, raksasa chip ini pun membuktikannya dengan mengadu kedua prosesor menggunakan aplikasi benchmark 3DMark. Hasil pengujian mencatatkan Intel Moorefield dengan empat inti prosesor berkecepatan 2,3 GHz unggul, dengan poin sebesar 20.887. Lebih tinggi dari Snapdragon 801 yang 'hanya' mendapat skor 18.742. Menurut Matt Dunford, Manager WW Client Benchmarking Intel, tingginya skor Intel Moorefield juga tak lepas dari chip grafis yang digunakan yakni PowerVR G6430. Chip grafis yang sama dengan yang ada pada iPhone 5S. Unggul secara performa bukan berarti lebih baik, hal yang tak kalah penting yang harus diperhatikan Intel adalah soal user experience. Boleh dibilang seri Snapdragon sangat kompeten dalam hal ini. Kinerja cepat memang penting, tapi kenyamanan penggunaan juga tak kalah pentingnya. Inilah yang selama ini berhasil dipertahankan Qualcomm dengan Snapdragon, dan bukan perkara mudah mengalahkan hal tersebut.

Written By Unknown on Rabu, 04 Juni 2014 | 21.13

Membuat smartphone flagship dengan ukuran yang menyusut lalu diberi label ‘mini’ memang tengah menjadi tren saat ini. Hampir semua vendor besar melakukan hal serupa guna menghadirkan experience ponsel premium mereka dalam bentuk yang lebih kecil.

LG yang sempat menarik perhatian pada akhir 2013 lalu lewat G2 ternyata tidak ketinggalan untuk melakukan hal serupa.

Hadir dengan nama G2 Mini, LG menciptakan versi kecil dari smartphone yang punya keunikan berkat penempatan tombol yang tidak biasa.

Seperti apa performa dari LG G2 Mini?

Desain dari G2 Mini bisa dikatakan hampir sepenuhnya sama dengan G2, kecuali untuk letak headphone jack yang kini ditempatkan di sisi atas.

Pinggirannya masih tetap ‘bersih’ dari tombol fisik dan ditambahkan aksen metal untuk kesan premium. Tombol-tombol sentuh di bagian depan juga tetap ditiadakan dan digantikan dengan on screen button yang susunannya bisa dikustomisasi.

Penempatan tombol power dan volume yang unik masih tetap dapat ditemui pada G2 Mini. Dikarenakan ukuran perangkat yang lebih kecil dari versi aslinya, pengoperasiannya terasa lebih nyaman. Penggunaan dengan satu tangan tidak akan menjadi kendala, sekalipun untuk Anda yang punya tangan berukuran kecil.




Material yang digunakan LG masih tetap dari plastik. Hanya saja kali ini finishing yang digunakan pada cover belakang tidak lagi glossy, melainkan menjadi matte dengan tesktur yang kasar sehingga terasa lebih enak di tangan.


G2 Mini tidak hadir dengan konstruksi unibodi seperti G2 yang artinya cover bagian belakangnya bisa dibuka. Di balik cover tadi terdapat baterai dengan kapasitas 2.440 mAh, dua buah slot micro SIM, dan sebuah slot micro SD.

Panel IPS seluas 4,7 inch yang ada sebenarnya tidak bisa dikatakan kecil apa lagi untuk sebuah smartphone yang punya label ‘mini’. Hal tersebut bisa dibandingkan dengan Sony Xperia Z1 Compact atau Samsung Galaxy S4 Mini yang sama-sama punya ukuran layar 4.3 inch.

Secara kualitas, gambar yang dihasilkan sudah bagus, tapi memang tidak istimewa. Wajar saja karena memang resolusinya hanya 480x 854 pixel dengan kerapatan 234 ppi. Level kontras dan saturasi yang ditawarkan terbilang pas sehingga gambar yang ditampilkan terlihat baik.
 Hanya saja selama detikINET menggunakannya kurang lebih selama satu minggu, layar G2 Mini terasa terlalu sensitif. Sering kali saat sedang melakukan scroll, layar merespons jari sebagai sebuah tap.

Bukan hal yang sangat krusial memang, tapi tetap saja cukup mengganggu apalagi ketika sedang browsing dan tidak sengaja memilih suatu tautan.

0 komentar:

Posting Komentar